Jumat, 09 November 2012

Progremmer Java dan Pengemis Tua


Ada sebuah cerita yang mungkin benar yang cukup mengelikan tentang pertemuan antara seorang Sarjana dan seorang pengemis. Ceritanya seperti ini...

Ada seorang programmer Java yang bernama Andi keluar dari sebuah kantor di bilangan sudirman. Karena dia baru lulus gajinya hanya ditawar 3 juta perbulan. Setelah berapa lama berjalan Andi tiba di depan kampus dekat jembatan semanggi.  Setelah jajan teh botol dia bertemu dengan sorang pengemis tua. Andi merasa kasihan dengan pengemis tersebut lalu dia mengambil beberapa lembah uang seribu rupiah dan memberikan pada pengemis tua itu.  
Karena Andi seorang programmer Java yang iseng dan tanya pada pengemis tua tersebut. "Pak sebagai pengemis kita-kira sehari bapak dapat berapa?". Dengan santai bapak tua itu menjawab "Ya bisanya dapat 300 ribu".  Mendengar itu Andi terperanjat. Kerja sebagai pengemis tidak seberapa berat tapi bisa melebihi apa yang dia dapat dengan banting tulang. Dalam hati Andi bicara "Saya aja yang harus kerja sampe malam-malam hanya dapat 3 juta perbulan bapak tua ini dengan hanya duduk bisa dapat tiga kali gaji ku. Wahh hebat juga".  Dengan tersenyum Andi memuji Bapak tua itu "Wah hebat, bapak sehari bisa dapat 300 ribu.". 
Lalu bapak tua itu berkata "Ialah saya kan punya 3 anak. Anak saya ada di UI, UKI dan Trisakti.". Mendengar hal tesebut Andi tambah kaget pikir dia waduh dengan menjadi pengemis dia bisa kuliahkan anaknya hebat juga profesi pengemis. Akhirnya Andi nyeletuk juga "Anak-anak bapak semua kuliah?".  Bapak tua itu pergi sambil berkata "Engak lah meraka seperti saya mengemis..".


Cerita diatas adalah sebuah gambaran dari suatu efek negatif dari semangat "Banyak anak Banyak Rejeki.".  Anak diberdayakan untuk mengeruk sejumlah uang. Anak tidak ditempatkan sebagai amanat untuk dididik menjadi lebih baik dari orang tuanya.  Untuk orang berpengahasilan rendah untuk membiayai anak sampai perguruan tinggi adalah sebuah cita-ciat mewah.  Tapi bila hanya 1 orang anak satu kerluarga membiayai sampai perguruan tinggi tentunya akan lebih mungkin dibandingkan harus mengantarkan 3 anak.

Mungkin model ini lah yang harus diupayakan oleh pemerintah mendorong agar keluarga terutama untuk yang mendekati garis kemiskinan mempunyai anak yang minial. Dengan katalain maksimal 1 anak.  Dengan satu anak maka kemungkinan kulitas keturuannya akan lebih baik dari orangtuanya akan lebih besar.  Dan pemerintahpun akan lebih mudah untuk mengakatkan tingkat sosial keluarga tersebut.  Bisa saja pemerintah memberikan sebuah stimulus memberikan kesempatan lebih besar pada keluarga yang mempunyai satu anak untuk menikmati pendidikan tentu akan lebih banyak keluarga yang hanya punya satu anak.  Seringkali ada kehawatiran bila hanya satu anak, kalau anaknya gagal maka keluarga tersebut gagal karena tidak ada lagi anak yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar